Selasa, 03 April 2012

7 PUNCAK GUNUNG TERTINGGI DI DUNIA

Tujuh Puncak Tertinggi di Dunia (The Seven Summits of the World ) dikenal sebagai puncak tertinggi ditemukan di setiap benua di Bumi. Konsep pertama kali diusulkan oleh Richard Bass di tahun 1980-an dan telah menjadi tujuan setiap pendaki gunung. Bass adalah orang pertama yang mendaki semua puncak-puncak itu dan pernah memegang rekor menjadi orang tertua untuk mendaki Everest.

Tujuh Puncak Tertinggi Dunia
Adapun ketujuh puncak gunung tertinggi itu adalah :

1. Gunung Everest (8.850 m) (Asia)


Gunung Everest (bahasa Inggris: Mount Everest) adalah gunung tertinggi di dunia (jika diukur dari paras laut). Rabung puncaknya menandakan perbatasan antara Nepal dan Tibet; puncaknya berada di Tibet. Di Nepal, gunung ini disebut Sagarmatha (सगरमाथा, bahasa Sansekerta untuk “Dahi Langit”) dan dalam bahasa Tibet Chomolangma atau Qomolangma (“Bunda Semesta”), dilafalkan dalam bahasa Tionghoa 珠穆朗瑪峰 (pinyin: Zhūmùlǎngmǎ Fēng).

Gunung ini mendapatkan nama bahasa Inggrisnya dari nama Sir George Everest. Nama ini diberikan oleh Sir Andrew Waugh, surveyor-general India berkebangsaan Inggris, penerus Everest. Puncak Everest merupakan salah satu dari Tujuh Puncak Utama di dunia.

Radhanath Sikdar, juru ukur dan pakar matematika dari Bengal, merupakan orang pertama yang menyatakan Puncak Everest sebagai puncak tertinggi melalui perhitungan trigonometrik pada 1852. Perhitungan ini dilakukan menggunakan teodolit dari jarak 150 mil jauhnya di India. Sebagian rakyat India percaya bahwa puncak tersebut semestinya dinamakan menurut Sikdar, bukan Everest.

Gunung ini mempunyai ketinggian sekitar 8.850 m; walaupun terdapat variasi dari segi ukuran (baik pemerintah Nepal maupun Cina belum mengesahkan ukuran ini secara resmi, ketinggian Puncak Everest masih dianggap 8.848 m oleh mereka). Gunung Everest pertama kali diukur pada tahun 1856 mempunyai ketinggian 8.839 m, tetapi dinyatakan sebagai 8.840 m (29.002 kaki). Tambahan 0,6 m (2 kaki) menunjukkan bahwa pada masa itu ketinggian yang tepat sebesar 29.000 kaki akan dianggap sebagai perkiraan yang dibulatkan. Perkiraan umum yang digunakan pada saat ini adalah 8.850 m yang diperoleh melalui bacaan Sistem Posisi Global (GPS). Gunung Himalaya masih terus bertambah tinggi akibat pergerakan lempeng tektonik kawasan tersebut.

Gunung Everest adalah gunung yang puncaknya mencapai jarak paling jauh dari paras laut. Dua gunung lain yang kadangkala juga disebut sebagai “gunung tertinggi di dunia” adalah Mauna Loa di Hawaii, yang tertinggi jika diukur dari dasarnya pada dasar tengah laut, tetapi hanya mencapai ketinggian 4.170 m atas paras laut dan Gunung Chimborazo di Ekuador, yang puncaknya 2.150 m lebih tinggi dari pusat bumi dibandingkan Gunung Everest , karena Bumi menggembung di kawasan katulistiwa. Bagaimanapun juga, Chimborazo hanya mencapai ketinggian 6.272 m di atas paras laut, sehingga bahkan bukan merupakan puncak tertinggi di Andes.

Dasar terdalam di lautan lebih dalam dibandingkan ketinggian Everest: Challenger Deep, terletak di Palung Mariana, begitu dalam hingga seandainya gunung Himalaya diletakkan di dalamnya, masih terdapat hampir 1,6 km air menutupinya.

2. Aconcagua (6.959 m) (Amerika Selatan)


Pada 6.962 m (22.841 kaki), Cerro Aconcagua merupakan gunung tertinggi di Amerika, dan gunung tertinggi di luar Asia. Hal ini terletak di Andes pegunungan, di Argentina provinsi dari Mendoza. KTT ini terletak sekitar 5 kilometer dari Propinsi San Juan dan 15 kilometer dari perbatasan internasional dengan Chile. Gunung itu terletak 112 kilometer (70 mil) dengan sebelah utara kota Mendoza. Aconcagua adalah puncak tertinggi baik di Barat dan Belahan Selatan. Ini adalah salah satu dari Tujuh Summits.

Aconcagua dibatasi oleh Valle de las Vacas ke utara dan timur dan Valle de los Horcones Inferior ke Barat dan Selatan. Gunung dan sekitarnya merupakan bagian dari Provinsi Aconcagua Park. Gunung memiliki sejumlah gletser. Gletser terbesar adalah Inferior Ventisquero Horcones dengan panjang sekitar 10km yang turun dari ketinggian 3600 m di dekat kamp Confluencia. Dua sistem gletser besar lainnya adalah Ventisquero de las Vacas Sur dan Glaciar Este / Ventisquero dengan panjang sekitar 5 kilometer. Namun yang paling terkenal adalah Polandia gletser.

Gunung diciptakan oleh subduksi dari Lempeng Nazca di bawah Amerika Selatan piring selama geologis Andean baru-baru ini, namun bukan merupakan gunung berapi.

Tercatat pendakian pertama adalah pada tahun 1897 oleh ekspedisi Inggris yang dipimpin Edward FitzGerald. Puncak tersebut berhasil dicapai berkat panduan Swiss Matthias Zurbriggen pada tanggal 14 Januari dan oleh dua anggota ekspedisi lainnya beberapa hari kemudian.

Orang termuda yang berhasil mencapai puncak Aconcagua adalah Matius Moniz of Boulder, Colorado. Ia berusia 10 tahun ketika ia mencapai puncak tersebut pada tanggal 16 Desember 2008.

Orang tertua yang mendaki gunung tersebut adalah Scott Lewis yang mencapai puncaknya pada tanggal 26 November 2007. Pada saat itu ia telah berusia 87 tahun.

3. Gunung McKinley, Denali (6.194 m) (Amerika Utara)


Gunung ini dikenal juga dengan nama lain yaitu Denali, berdiri dengan ketinggian 20.320 feet atau 6.194m dpl dan berada pada posisi 63º 04’ 10” LS dan 151º 00’ 13: BT. Gunung yang terletak di Alaska Range, Amerika Serikat ini paling baik didaki pada bulan April, May dan juni. Gunung ini pertama kali didaki pada tahun 1913 oleh Hudson Stuck, Harry Karstens, W. Haper dan R. Tatum. Kota terdekat untuk mencapai gunung ini adalah Talkeetna di Alaska dan airport yang terdekat adalah Anchorage, Alaska.

Mount McKinley adalah gunung yang tertinggi di Utara Amerika, gunung ini berupa onggokan salju yang besar, mempunyai lima glacier raksasa, dan reruntuhan salju yang tidak terhitung banyaknya. Ada tanjakan terjal sejauh 12 mil dan mencuat dengan ketinggian 17.000 kaki. Ada lima punggungan utama yang memanjang dari puncak.

Gunung ini semakin lebih dikenal dengan nama native nya yaitu Denali dalam bahasa Athabaskan, yang artinya yang terbesar. Denali tidaklah terlalu membutuhkan tehnik pendakian yang susah, akan tetapi cuacanya disini sangat buruk bila dibandingkan dengan tempat lainnya di dunia, dan telah banyak nyawa yang hilang saat mencoba mendaki gunung ini. Jumlah pendaki yang mencoba mendaki Denali semakin bertambah secara dramatic akhir-akhir ini. Dan persentase terbanyak dari jumlah pendaki tersebut berakhir dengan kegagalan.

4. Kilimanjaro (5.895 m) (Afrika)



BERADA 340 km selatan garis ekuator, Gunung Kilimanjaro merupakan salah satu dari tiga gunung beratapkan salju abadi di garis khatulistiwa, selain Cayambe di Ekuador dan puncak Jaya di Indonesia.

Sebagai obyek utama di Tanzania dan simbol dari negara-negara Afrika Timur, pada tahun 1973 kawasan Kilimanjaro dijadikan Taman Nasional, dan pada tahun 1987 Kilimanjaro National Park (KINAPA) diakui sebagai Warisan Alam Dunia oleh PBB. Saat ini, kawasan Kilimanjaro dengan Puncak Kibo (5.895 m dpl) sebagai atap tertinggi benua Afrika, dikunjungi lebih dari 35.000 pengunjung setiap tahun.

Berbagai kemudahan akses, akomodasi, keamanan, serta jasa pemandu profesional, memungkinkan semakin banyak orang menikmati keindahan alam yang semakin langka ini. Kilimanjaro sebagai warisan alam dunia berbenah diri dan dalam 4 tahun terakhir kunjungan wisatawan meningkat lebih tiga kali lipat. Manakjubkan.

Mengamati pengelolaan alam di Kili, perjalanan dalam misi "Kilimanjaro for Lupus" ini terus membuat takjub dan iri hati. Tanzania, negara berkembang dengan lebih 30 persen penduduknya di bawah garis kemiskinan, mampu berdisiplin tinggi. Gerbang Marangu merupakan satu dari 7 rute pendakian ke puncak Kilimanjaro di ketinggian 1.800 m. Bangunan kantor pengelola berisi 3 petugas dipenuhi para calon pendaki yang antre rapi.

Di depannya kios kecil, berisi lengkap kebutuhan pendakian hingga dagangan suvenir. Fasilitas kamar mandi duduk dan area piknik tertata rapi dan bersih, empat papan pengumuman pendakian, larangan, imbauan serta peraturan pendakian terjajar apik di papan kayu dengan ukiran tulisan yang mudah dibaca.

Seluruh bangunan teridentifikasi dengan papan tunjuk yang jelas. Tidak terlihat tong sampah, tetapi tidak kami temukan satu pun sampah tercecer. Para pemandu dengan andal membantu kami registrasi dan mengatur logistik bersama 26 pengangkut barang, koki, dan asisten pemandu yang sebagian besar merupakan suku Chagga, suku terbesar di kawasan Kilimanjaro.

Suasana alam yang murni sepanjang 70 km perjalanan naik-turun kami rasakan demikian dalam. Flora-fauna yang kami temui tampak tenang tidak terusik. Area piknik berupa meja bangku kayu, pondok WC yang bersih dan terawat di setiap 5-7 km perjalanan, 3 pondok pendaki berkapasitas 70 orang di Mandara, 148 orang di Horombo serta 58 orang di Kibo siap menyambut.

Pemandu

Tiap pondok berstruktur segitiga dengan tempat tidur susun untuk 4-10 pendaki merupakan bangunan kayu dengan alas tidur dan bantal. Pondok itu cukup membuat tidur kami lebih nyaman dibandingkan di tenda. Selain itu, tersedia WC dengan air melimpah, aula makan, dapur umum serta pondok khusus pemandu dan porter, ditambah panel matahari yang siap menerangi setiap ruang setiap malamnya.

Fasilitas baik tanpa kedisiplinan pengguna, apalah artinya. Di KINAPA para pemandu memegang kunci utama dalam pengelolaan taman nasional. Dengan sistem pengategorian pemandu versus imbalan, mereka dituntut terus meningkatkan kemampuan pelayanan, pengetahuan alam, pengetahuan teknis pendakian dan penyelamatan, serta kemampuan berkomunikasi dan berbahasa.

Sistem penalti, berupa skorsing hingga pencabutan lisensi, diberlakukan manajemen KINAPA untuk memastikan tidak terjadi pelanggaran, seperti penggunaan bahan bakar yang tidak dianjurkan, mengganggu flora fauna, penggunaan rute di luar ketentuan, keteledoran pemandu, dan peraturan ketat lainnya yang bisa menghentikan sumber pendapatan para pemandu.

Menjadi pemandu merupakan impian kebanyakan warga suku Chagga yang tinggal di seputar kaki Kilimanjaro. Butuh lebih dari 5 tahun untuk menjadi kepala pemandu, dengan imbalan tertinggi. Dengan 2-3 tahun pengalaman menjadi porter untuk menempa fisiknya, 2 tahun pendidikan on the job training sebagai guide assistant, hingga akhirnya tes oleh KINAPA untuk sertifikasi pemandu.

Laiknya di negara berkembang, kesejahteraan para pemandu dan porter masih menjadi isu penting. Keuntungan besar masih lebih banyak terserap para operator wisata yang bermukim di perkotaan. Fasilitas kelengkapan peralatan pendakian hingga pakaian yang layak tidak selalu dapat terpenuhi. Hingga banyak yang menderita sakit bahkan kematian.

Dua asosiasi besar dibentuk di awal tahun 2003; KPAP (Kilimanjaro Porters Assistance Project) serta KGPU (Kilimanjaro Guides and Porter Union). KPAP merupakan inisiatif International Mountain Explorers Connections yang berbasis di Amerika, yang memperjuangkan hak-hak para porter di seluruh dunia, seperti di kawasan Annapurna Sanctuary Nepal dan Inca trail di Peru. Layanannya berupa peminjaman perlengkapan hingga pakaian yang layak cuma-cuma; pelatihan bahasa Inggris, P3K hingga pengetahuan HIV yang melanda delapan persen penduduk Tanzania; manajemen keuangan pribadi; serta memberikan edukasi kepada pengguna jasa porter. Sedang KGPU didirikan mantan pemandu dan porter, Joseph Nyabasi, dengan tujuan memperbaiki kesejahteraan mereka yang mencari nafkah dari gunung melalui misi yang sama.

Tuntutan profesionalitas yang dibarengi dengan berbagai badan perlindungan pekerja di gunung, menjadikan kawasan ini salah satu tujuan wisata alam terpopuler.

Kilimanjaro sebagai salah satu "The Big Seven" gunung tertinggi di setiap benua di dunia mendorong Pemerintah Tanzania berbenah diri. Kesiapan Tanzania menyambut para wisatawan alam ini tentunya dapat ditiru juga oleh pemerintah dan pemerhati alam di Indonesia, di mana Gunung Carstensz Pyramid, kawasan Jayawijaya Papua Indonesia, juga menjadi salah satu dari "The Big Seven"

5. Mount Elbrus, Kaukasus (5.642m) (Eropa)



Kaukasus adalah sebuah daerah di Eropa Timur dan Asia Barat di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia yang termasuk Pegunungan Kaukasus dan daerah-daerah rendah lainnya. Kaukasus kadang dianggap sebagai bagian dari Asia Tengah.

Puncak tertinggi di Kaukasus adalah Elbrus (5.642m), yang juga dianggap sebagai gunung tertinggi di Eropa.

Negara-negara merdeka yang membentuk Kaukasus kini adalah Rusia (Distrik Kaukasus Utara), Georgia, Armenia dan Azerbaijan. Wilayah besar non-independen di Kaukasus meliputi Ossetia, Chechnya, Ingushetia dan Dagestan di antaranya. Kaukasus adalah salah satu daerah yang mempunyai keanekaragaman linguistik dan budaya yang paling luas di dunia.

Bagian selatan Kaukasus dikenal sebagai Transkaukasus.

Kejadian-kejadian bersejarah:
Perang Arab-Khazar
Penjajahan Kaukasus oleh Rusia
1991: Dikenalnya kembali status merdeka negara Armenia, Georgia, dan Azerbaijan

Dalam mitologi Yunani, Kaukasus atau Kaukasos adalah salah satu pilar pendukung dunia. Prometheus dirantai di sana oleh Zeus.

6. Vinson Massif (4.897 m) (Antartika)


Mountain Range: Sentinel Range, Ellsworth Mountains Lokasi : Antartika Tinggi : 4.892 meter atau 16.067 kaki Vinson dikenal sebagai salah satu yang paling tidak bisa diakses rentang di dunia, dan hanya 800 mil dari Kutub Selatan. Gunung itu tidak dikenal dan tak terduga hingga 1957. Tidak sampai tahun 1966 dan tahun 1967, pendakian pertama diciptakan ke puncaknya. Bagian yang paling sulit tentang Vinson Massif adalah tingkat kesulitan aksesnya, tapi sekarang ada beberapa operator yang menawarkan wisata tak bertuan ini.

7. Puncak Jaya, Indonesia (4.884 m) (Oseania)



Puncak Jaya ialah sebuah puncak yang menjadi bagian dari Barisan Sudirman yang terdapat di provinsi Papua, Indonesia. Puncak Jaya mempunyai ketinggian 4884 m dan di sekitarnya terdapat gletser Carstenz, satu-satunya gletser tropika di Indonesia, yang kemungkinan besar segera akan lenyap akibat pemanasan global. Puncak ini pernah dinamai Poentjak Soekarno dan merupakan gunung yang tertinggi di Oceania. Puncak Jaya adalah salah satu dari Tujuh Puncak Utama dunia. Nama-nama/ejaan lain: Ngga Pulu (“Ngga” berarti gunung) Gunung Carstensz Piramida Carstensz Puncak Carstensz Puncak Jayakesuma Puncak Piramida Carstensz Ndugundugu

Rabu, 14 Maret 2012

GUNUNG KRAKATAU



Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.
Selat Sunda

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska. Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh pada masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.

Melihat kawasan Gunung Krakatau di Selat Sunda, para ahli memperkirakan bahwa pada masa purba terdapat gunung yang sangat besar di Selat Sunda yang akhirnya meletus dahsyat yang menyisakan sebuah kaldera (kawah besar) yang disebut Gunung Krakatau Purba, yang merupakan induk dari Gunung Krakatau yang meletus pada 1883. Gunung ini disusun dari bebatuan andesitik.

Catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi. Isinya antara lain menyatakan:
“ Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera ”
Krakatoa evolution map-fr.gif

Pakar geologi Berend George Escher dan beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa kejadian alam yang diceritakan berasal dari Gunung Krakatau Purba, yang dalam teks tersebut disebut Gunung Batuwara. Menurut buku Pustaka Raja Parwa tersebut, tinggi Krakatau Purba ini mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut, dan lingkaran pantainya mencapai 11 kilometer.

Akibat ledakan yang hebat itu, tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung, dalam catatan lain disebut sebagai Pulau Rakata, Pulau Rakata Kecil dan Pulau Sertung. Letusan gunung ini disinyalir bertanggung- jawab atas terjadinya abad kegelapan di muka bumi. Penyakit sampar bubonic terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini secara signifikan mengurangi jumlah penduduk di muka bumi.

Letusan ini juga dianggap turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya peradaban Arabia Selatan, punahnya kota besar Maya, Tikal dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. Ledakan Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.

Munculnya Gunung Krakatau

Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau Purba kemudian tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi yang dikenal sebagai Gunung Krakatau (atau Gunung Rakata) yang terbuat dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunung api muncul dari tengah kawah, bernama Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan yang kemudian menyatu dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api inilah yang disebut Gunung Krakatau.

Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1680 menghasilkan lava andesitik asam. Lalu pada tahun 1880, Gunung Perbuwatan aktif mengeluarkan lava meskipun tidak meletus. Setelah masa itu, tidak ada lagi aktivitas vulkanis di Krakatau hingga 20 Mei 1883. Pada hari itu, setelah 200 tahun tertidur, terjadi ledakan kecil pada Gunung Krakatau. Itulah tanda-tanda awal bakal terjadinya letusan dahsyat di Selat Sunda. Ledakan kecil ini kemudian disusul dengan letusan-letusan kecil yang puncaknya terjadi pada 26-27 Agustus 1883

Erupsi 1883

Pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20, terjadi ledakan pada gunung tersebut. Menurut Simon Winchester, ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris yang juga penulis National Geographic mengatakan bahwa ledakan itu adalah yang paling besar, suara paling keras dan peristiwa vulkanik yang paling meluluhlantakkan dalam sejarah manusia modern. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.

Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bersama ledakan Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencavai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.

Letusan itu menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta sebagian Gunung Rakata dimana setengah kerucutnya hilang, membuat cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 meter. Gelombang laut naik setinggi 40 meter menghancurkan desa-desa dan apa saja yang berada di pesisir pantai. Tsunami ini timbul bukan hanya karena letusan tetapi juga longsoran bawah laut.

Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 orang berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak (Serang) hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon serta Sumatera Bagian selatan. Di Ujungkulon, air bah masuk sampai 15 km ke arah barat. Keesokan harinya sampai beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer.

Anak Krakatau


Mulai pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau dari kawasan kaldera purba tersebut yang masih aktif dan tetap bertambah tingginya. Kecepatan pertumbuhan tingginya sekitar 20 inci per bulan. Setiap tahun ia menjadi lebih tinggi sekitar 20 kaki dan lebih lebar 40 kaki. Catatan lain menyebutkan penambahan tinggi sekitar 4 cm per tahun dan jika dihitung, maka dalam waktu 25 tahun penambahan tinggi anak Rakata mencapai 7.500 inci atau 500 kaki lebih tinggi dari 25 tahun sebelumnya. Penyebab tingginya gunung itu disebabkan oleh material yang keluar dari perut gunung baru itu. Saat ini ketinggian Anak Krakatau mencapai sekitar 230 meter di atas permukaan laut, sementara Gunung Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 meter dari permukaan laut.

Menurut Simon Winchester, sekalipun apa yang terjadi dalam kehidupan Krakatau yang dulu sangat menakutkan, realita-realita geologi, seismik serta tektonik di Jawa dan Sumatera yang aneh akan memastikan bahwa apa yang dulu terjadi pada suatu ketika akan terjadi kembali. Tak ada yang tahu pasti kapan Anak Krakatau akan meletus. Beberapa ahli geologi memprediksi letusan ini akan terjadi antara 2015-2083. Namun pengaruh dari gempa di dasar Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 juga tidak bisa diabaikan.
Anak Krakatau, Februari 2008

Menurut Profesor Ueda Nakayama salah seorang ahli gunung api berkebangsaan Jepang, Anak Krakatau masih relatif aman meski aktif dan sering ada letusan kecil, hanya ada saat-saat tertentu para turis dilarang mendekati kawasan ini karena bahaya lava pijar yang dimuntahkan gunung api ini. Para pakar lain menyatakan tidak ada teori yang masuk akal tentang Anak Krakatau yang akan kembali meletus. Kalaupun ada minimal 3 abad lagi atau sesudah 2325 M. Namun yang jelas, angka korban yang ditimbulkan lebih dahsyat dari letusan sebelumnya. Anak Krakatau saat ini secara umum oleh masyarakat lebih dikenal dengan sebutan "Gunung Krakatau" juga, meskipun sesungguhnya adalah gunung baru yang tumbuh pasca letusan sebelumnya.

Senin, 19 Desember 2011

Daftar Tanaman Obat Indonesia

A
Adas
Adem Ati
Ajeran
Akar Manis
Akar Wangi
Alang Alang
Alpokat
Andong
Angsana
Anting-anting
Anyang Anyang
Apel
Aren
Asam Jawa
Awar Awar

B
Bandotan
Bangle
Baru Cina
Bawang Merah
Bawang Putih
Bayam
Bayam Duri
Belimbing Asam
Belimbing Manis
Belimbing wuluh
Beluntas
Benalu
Beringin
Bidara Laut
Bidara Upas
Biduri
Bligu
Blustru
Boroco
Brojo Lintang
Brokoli
Brotowali
Buah Makasar
Buah Nona
Buncis
Bunga Kenop
Bunga Matahari
Bunga Pagoda
Bunga Pukul Delapan
Bunga Tasbih
Bungli
Bungur
Bungur Kecil
Buni

C
Cabai Merah
Cabai Rawit
Cabe Jawa
Cakar Ayam
Calingcing
Ceguk
Cempaka Kuning
Cempaka Putih
Cendana
Cengkeh
Ceremai
Cincau
Ciplukan

D
Dadap Ayam
Dadap Serep
Dandang Gendis
Daruju
Daun Dewa
Daun duduk
Daun Encok
Daun Jintan
Daun Kentut
Daun Madu
Daun Sendok
Daun Senna
Daun Ungu
Delima

E
Ekor Kucing
Enau

G
Gadung
Gambir
Gandarusa
Gendola
Genje
Ginjean
Greges Otot
Gude

H
Halia

I
Iler
Inggu

J
Jagung
Jahe
Jamblang
Jambu Biji
Jambu Monyet
Jamur Kayu
Jarak
Jarak Bali
Jarak Ulung
Jarong
Jati Belanda
Jayanti
Jengger Ayam
Jeruk Nipis
Jeruk Purut
Jintan Putih
Jintan/Ajeran
Johar
Jombang
Jung Rabab

K
Kacapiring
Kaki Kuda
Kaktus Pakis Giwang
Kamboja
Kapas
Kapasan
Kapulaga
Kastuba
Katu
Kayu Manis (padang)
Kayu Putih
Kecubung
Kecubung Gunung
Kedelai
Keji Beling
Kelapa
Kelingkit Taiwan
Kelor
Kembang Bokor
Kembang Bugang
Kembang Coklat
Kembang Kertas
Kembang Pukul Empat
Kembang Sepatu Sungsang
Kembang Sore
Kembang Sungsang
Kemuning
Kenanga
Kencur
Ketepeng Cina
Ketepeng Kecil
Ketimun
Ki Tolod
Klabet
Kol Banda
Kompri
Kubis
Kubis Bunga
Kucing Kucingan
Kumis Kucing
Kunci Pepet
Kunyit
Kwalot

L
Lada
Landep
Landik
Legundi
Lempuyang Gajah
Lempuyang Wangi
Lengkuas
Lenglengan
Lidah Buaya
Lidah Ular
Lobak

M
Mahkota Dewa
Mahoni
Mamang Besar
Manggis
Mangkokan
Melati
Mengkudu
Meniran
Mimba
Mindi Kecil
Mondokaki
Murbei

N
Nampu
Nanas
Nanas Kerang
Ngokilo
Nona Makan Sirih

P
Pacar Air
Pacar Cina
Padi
Pala
Pandan Wangi
Pare
Patah Tulang
Patikan Cina
Patikan Kerbau
Pecut Kuda
Pecut Kuda
Pegagan
Pepaya
Permot
Petai Cina
Pinang
Pisang
Pohon Merah
Portulaka
Poslen
Prasman
Pulai
Pule Pandak
Pulutan
Putri Malu

R
Rambutan
Rincik Bumi
Rumput Mutiara

S
Saga
Salam
Salvia
Sambang Darah
Sambang Getih
Sambiloto
Sambung Nyawa
Sangitan
Sangketan
Sawi Langit
Sawi Tanah
Secang
Seledri
Semanggi Gunung
Semangka
Sembung
Senggani
Sengugu
Sereh
Sesuru
Siantan
Sidaguri
Sirih
Sirsak
Sisik Naga
Som Jawa
Sosor Bebek
Srigading
Srikaya

T
Tahi Kotok
Tanduk Rusa
Tapak Dara
Tapak Kuda
Tapak Liman
Tasbeh
Tebu
Teh
Tembelekan
Tempuyung
Temu Hitam
Temu Kunci
Temu Putih
Temu Putri
Temulawak
Teratai
Teratai Kerdil
Tomat
Tunjung
Turi

U
Ubi Kayu
Urang-Aring

W
Waru
Wijaya kusuma
Wortel

Kamis, 27 Oktober 2011

Nama Latin dan Inggris 100 Hewan (Fauna) Indonesia

Ajag atau Asiatic Wild Dog (Cuon alpinus)
Anjing atau Dog (Canis lupus familiaris)
Anoa Pegunungan atau Mountain Anoa (Bubalus quarlesi)
Anoa Dataran Rendah atau Lowland Anoa (Bubalus depressicornis)
Babirusa atau Babiroussa (Babyrousa babirussa)
Bajing Hitam atau Black-striped Squirrel (Callosciurus nigrovittatus)
Bajing Kelapa atau Plantain squirrel (Callosciurus notatus)
Bajing Tanah atau Three-striped Ground Squirrel (Lariscus insignis)
Bajing Terbang Ekor Merah atau Javanese Flying Squirrel (Iomys horsfieldi)
Badak Jawa atau Javan rhino (Rhinoceros sondaicus)
Badak Sumatera atau Sumatran rhino (Dicerorhinus sumatrensis)
Banteng (Bos javanicus)
Bekantan atau Long-Nosed Monkey (Nasalis larvatus)
Beruang Madu atau Sun Bear (Helarctos malayanus)
Beruk Mentawai atau Pagai Macaque (Macaca pagensis)
Binturung atau Binturong (Arctictis binturong).
Cecurut rumah atau Asian House Shrew (Suncus murinus)
Domba atau Sheep (Ovis aries)
Duyung atau Dugong (Dugong dugon)
Gajah Sumatera atau Asian Elephant (Elephas maximus sumatranus)
Harimau Bali atau Bali Tiger (Panthera tigris balica)
Harimau Jawa atau Javan Tiger (Panthera tigris sondaica).
Harimau Sumatera atau Sumatran Tiger (Panthera tigris sumatrae)
Hiu Tutul atau Whale Shark (Rhincodon typus).
Jelarang atau Black Giant Squirrel (Ratufa bicolor)
Kambing Hutan Sumatera atau Sumatran Serow (Capricornis sumatraensis)
Kambing Ternak atau Domestic Goat (Capra aegagrus hircus)
Kancil atau Pelanduk atau Java Mouse-deer (Tragulus javanicus)
Kancil Napu atau Greater Mouse-deer (Tragulus napu)
Kanguru Pohon Mantel Emas atau Golden-mantled Tree Kangaroo (Dendrolagus pulcherrimus)
Kelinci Jawa atau Black-naped Hare (Lepus nigricollis)
Kelinci Sumatera atau Sumatran Striped Rabbit (Nesolagus netscheri)
Kera Hitam Sulawesi atau Celebes Crested Macaque (Macaca nigra)
Kerbau atau Asian Water Buffalo (Bubalus bubalis)
Kijang atau Red Muntjac (Indian Muntjac)
Kucing atau Cat (Felis catus)
Kucing Bakau atau Fishing Cat (Felis viverrinus)
Kucing Emas atau Asian Golden Cat (Felis temmincki)
Kucing Hutan atau Leopard Cat (Prionailurus bengalensis)
Kucing Merah atau Borneo Bay Cat (Pardofelis badia)
Kubung atau Sunda Flying Lemur (Cynocephalus variegatus)
Kukang Besar atau Greater Slow Loris (Nycticebus coucang)
Kukang Borneo atau Bornean Slow Loris (Nycticebus menagensis)
Kukang Jawa atau Javan Slow Loris (Nycticebus javanicus)
Kuskus Beruang atau Bear Cuscus (Ailurops ursinus)
Kuskus Gebe (Phalanger alexandrae)
Kuskus Gunung atau Mountain Cuscus (Phalanger carmelitae)
Kuskus Matabiru atau Blue-eyed Cuscus (Phalanger matabiru)
Kuskus Pulau Obi atau Obi Cuscus (Phalanger rothschildi)
Landak atau Malayan Porcupine (Hystrix brachyura)
Landak Jawa atau Sunda Porcupine (Hystrix javanica)
Landak Sumatera atau Sumatran Porcupine (Hystrix sumatrae)
Landak Kalimantan atau Bornean Porcupine (Thecurus crassispinis)
Lumba-lumba hidung botol atau Common bottlenose dolphins (Tursiops truncatus)
Lutra (Lutra lutra)
Lutung Dahi Putih atau White-fronted Langur (Presbytis frontata)
Lutung Jawa atau Javan Langur (Trachypithecus auratus)
Lutung Merah atau Maroon Leaf Monkey (Presbitys rubicunda)
Macan Dahan Sumatera atau (Neofelis diardi diardi)
Macan Dahan Kalimantan atau (Neofelis diardi borneensis)
Macan Tutul Jawa atau Java Leopard (Panthera pardus melas)
Mentilin atau Horsfield’s Tarsier (Tarsius bancanus)
Monyet Ekor Panjang atau Crab-eating Macaque (Macaca fascicularis)
Monyet Jambul atau Tonkean Macaque (Macaca tonkeana)
Musang Air atau Otter Civet (Cynogale bennettii)
Musang Akar atau Small-toothed Palm Civet (Arctogalidia trivirgata)
Musang Luwak atau Common Palm Civet (Paradoxurus hermaphroditus)
Musang Rase atau Small Indian Civet (Viverricula indica)
Orangutan Kalimantan atau Bornean Orangutan (Pongo pygmaeus)
Orangutan Sumatera atau Sumatran Orangutan (Pongo abelii)
Owa Jawa atau Silvery Javan Gibbon (Hylobates moloch)
Paus Bongkok atau Humpback Whales (Megaptera novaeangliae)
Paus Biru atau Fin Whale (Balaenoptera physalus)
Pesut Mahakam atau Irrawaddy Dolphin (Orcaella brevirostris)
Pulusan atau Hog Badger (Arctonyx collaris)
Rungka atau Thomas’s Langur (Presbitys thomasi)
Rusa Bawean atau Bawean Deer (Axis kuhlii)
Rusa Sambar atau Sambar Deer (Cervus unicolor)
Rusa Timor atau Timor Deer (Cervus timorensis)
Rusa Totol atau Axis Deer (Axis axis)
Tapir atau Asian Tapir (Tapirus indicus)
Sapi Ternak atau Cattle (Bos taurus)
Siamang atau Siamang Gibbon (Symphalangus syndactylus)
Sigung atau Indonesian Stink Badger (Mydaus javanensis)
Surili Jawa atau Javan Surili (Presbytis comata)
Tarsius (Tarsius spectrum)
Tarsius Kerdil atau Pygmy Tersier (Tarsius pumilus)
Tarsius Siau atau Siau Island Tarsier (Tarsius tumpara)
Trenggiling Jawa atau Sunda Pangolin (Manis javanica)
Tupai Kekes atau Javan treeshrew (Tupaia javanica)

Bunga (Puspa) Nasional Indonesia

Bunga Nasional Indonesia adalah tiga jenis bunga yang ditetapkan oleh pemerintah dengan harapan mampu mewakili karakteristik bangsa dan negara Indonesia. Ketiga bunga nasional Indonesia tersebut adalah bunga melati (Jasminum sambac) yang ditetapkan sebagai puspa bangsa, bunga anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) sebagai puspa pesona, dan padma raksasa atau bunga bangkai (Rafflesia arnoldi) sebagai puspa langka.

Bunga nasional Indonesia yang terdiri atas tiga jenis bunga tersebut ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor Tahun 1993 tentang yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia, Soeharto.

Selain bunga nasional, Indonesia juga memiliki 3 satwa (fauna) nasional yang menjadi maskot bangsa Indonesia. Ketiga satwa nasional tersebut adalah komodo atau ora (Varanus komodoensis) sebagai satwa nasional, ikan siluk merah atau arwana sebagai satwa pesona, dan elang jawa (Spizaetus bartelsi) sebagai satwa langka.

Ketiga bunga (puspa) nasional Indonesia selengkapnya adalah sebagai berikut;

1. Bunga Melati Putih (Jasminum sambac), Puspa Bangsa.


Bunga melati (Jasminum sambac) atau disebut juga melati putih merupakan salah satu spesies melati yang berasal dari Asia Selatan. Tanaman perdu ini tersebar mulai dari daerah Hindustan, Indochina, Malaysia, hingga ke Indonesia. Bunga melati putih ditetapkan sebagai puspa bangsa, satu diantara tiga bunga nasional Indonesia.

Melati (Jasminum sambac) merupakan tanaman perdu, berbatang tegak merayap, hidup menahun. Melati tumbuh baik di iklim panas tropik, kondisi tanah ringan, porus, berpasir sampai agak liat. Bunga melati berukuran kecil, umumnya berwarna putih, petala (mahkota bunga) selapis atau bertumpuk. Daun bentuk membulat.
Ada sekitar 200 jenis melati yang sudah teridentifikasi, tetapi hanya 8-9 jenis yang umum dibudidayakan. Di Indonesia ada banyak nama lokal yang diberikan kepada bunga melati seperti, menuh (bali), Meulu Cina, Meulu Cut (Aceh), Malete (Madura), Menyuru (Banda), Melur (Gayo dan Batak Karo), Manduru (Menado), dan Mundu (Bima, Sumbawa).

Melati mempunyai bentuk mahkota yang sederhana. Melati memiliki bunga berwarna putih suci. Melati memiliki aroma yang lembut menenangkan. Melati tidak membutuhkan pemeliharaan yang rumit. Harga melati yang merakyat (relatif murah). Dari semua kelebihan melati itu, tidak berlebihan jika kemudian melati ditetapkan sebagai bunga bangsa, salah satu dari 3 bunga nasional Indonesia.

Klasifikasi ilmiah melati adalah sebagai berikut: Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Lamiales; Famili: Oleaceae; Genus: Jasminum; Spesies: Jasminum sambac. Sinonim: Nyctanthes sambac


2. Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis), Puspa Pesona.

Bunga anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) ditetapkan sebagai puspa pesona, salah satu dari tiga puspa nasional Indonesia. Bunga anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) merupakan salah satu jenis anggrek (Orchidaceae) yang mempunyai ciri khas kelopak bunga yang lebar dan berwarna putih.

Anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) tumbuh liar dan tersebar luas mulai dari Indonesia, Indonesia, Papua, Filipina, Malaysia hingga ke Australia. Anggrek bulan hidup secara epifit yaitu menempel pada batang atau cabang pohon inang. Secara liar anggrek bulan mampu tumbuh hingga pada ketinggian 600 meter dpl.

Keelokan anggrek bulan ini yang kemudian mempesona semua pihak. Keelokannya yang mempesona menjadi dasar pertimbangan sehingga anggrek bulanpun ditetapkan sebagai puspa (bunga) pesona menyandingi puspa bangsa dan puspa langka.

Selengkapnya mengenai bunga pesona ini silahkan membaca artikel berjudul Anggrek Bulan Puspa Pesona Indonesia .

Klasifikasi ilmiah anggrek bulan adalah sebagai berikut: Karajan: Plantae; (tanpatingkat) Monocots; Ordo: Asparagales; Familia: Orchidaceae; Subsuku: Epidendroideae; Genus: Phalaenopsis; Spesies: Phalaenopsis amabilis

3. Padma Raksasa (Rafflesia arnoldi), Puspa Langka

Padma Raksasa (Rafflesia arnoldi) ditetapkan menjadi puspa langka melengkapi Melati Putih (puspa bangsa) dan Anggrek Bulan (puspa pesona). Selain menjadi salah satu dari bunga nasional, Rafflesia arnoldii juga menjadi flora identitas provinsi Bengkulu.

Rafflesia arnoldii atau padma raksasa yang merupakan tanaman endemik Sumatera merupakan satu dari sekitar 30-an jenis Rafflesia yang ditemukan di Asia Tenggara, mulai dari semenanjung Malaya, Kalimantan, Sumatra, dan Filipina. Dinamakan padma raksasa lantaran ukuran bunganya yang mampu mencapai diameter 100 cm dengan berat 10 kg.

Tubuhan yang ditetapkan sebagai puspa langka ini tidak memiliki batang, daun, maupun akar yang sebenarnya. Tumbuhan ini hidup secara endoparasit pada tumbuhan inangnya. Satu-satunya bagian tumbuhan Rafflesia yang dapat dilihat di luar tumbuhan inangnya adalah bunga bermahkota lima.

Sampai saat ini Rafflesia arnoldii tidak pernah berhasil dikembangbiakkan di luar habitat aslinya dan apabila akar atau pohon inangnya mati, Raflesia akan ikut mati. Oleh karena itu Raflesia membutuhkan habitat hutan primer untuk dapat bertahan hidup. Mungkin lantaran hal ini yang kemudian menjadi dasar pertimbangan sehingga padma raksasa ditetapkan sebagai puspa langka Indonesia. Bersama melati putih (puspa bangsa) dan anggrek bulan (puspa pesona), Rafflesia arnoldii menjadi bunga nasional Indonesia.

Patma raksasa sering disamakan dengan bunga bangkai (Amorphpophallus titanium). Padahal keduanya adalah bunga yang berbeda. Silahkan membaca perbedaannya di artikel Perbedaan Rafflesia Arnoldii dan Bunga Bangkai.

Klasifikasi ilmiah padma raksasa adalah sebagai berikut: Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Malpighiales; Famili: Rafflesiaceae; Genus: Rafflesia; Spesies: Rafflesia arnoldi

Ketiga bunga kebanggan Indonesia ini diharapkan mampu mewakili karakteristik bangsa dan negara Indonesia. Karena itu ketiganya kemudian ditetapkan sebagai bunga (puspa) nasional Indonesia.

Nepenthes (Kantong Semar) Papua

ini merupakan seri lanjutan jenis-jenis (spesies) dan gambar kantong semar di Indonesia yang disajikan perpulau. Papua menjadi salah satu pulau dengan ragam spesies Nepenthes terbanyak di dunia di samping pulau Sumatera, Kalimantan, kepulaun Filipina dan Thailand.

Beberapa spesies kantong semar bisa dijumpai di pulau yang menjadi wilayah Indonesia dan Papua New Guinea ini. Sebagian besar jenis tersebut merupakan tumbuhan endemik.

Berikut adalah nama-nama spesies kantong semar (Nepenthes) yang tumbuh di pulau Papua dilengkapi dengan gambar masing-masing.
Jenis dan Gambar Nepenthes (Kantong Semar) Endemik Papua.

# Nepenthes insignis. Kantong semar ini endemik Papua (Indonesia).

Nepenthes insignis

# Nepenthes klossii. Jenis kantong semar Nepenthes klossii merupakan tumbuhan asli dan endemik Papua (Indonesia).

Nepenthes klossii


# Nepenthes paniculata. Kantong semar berstatus endangered ini asli Papua (Indonesia).

Nepenthes paniculata


# Nepenthes papuana. Kantong semar Papuana endemik Papua (Indonesia).


Nepenthes papuana

# Nepenthes treubiana. Kantong semar ini terdapat di Sorong dan pulau Misool, Papua (Indonesia).

Nepenthes treubiana

Jenis dan Gambar Nepenthes (Kantong Semar) Papua yang dapat dijumpai di tempat lain

# Nepenthes ampullaria. Kantong semar ini selain di Papua biasa dijumpai juga di Kalimantan, Sumatera, Kepulauan Maluku, Thailand, Malaysia, dan Singapura.

# Nepenthes ampullaria

Nepenthes maxima. Kantong semar ini tersebar di Maluku, Sulawesi, dan Papua (Indonesia dan Papua New Guinea).

Nepenthes maxima

Nepenthes mirabilis. Kantong semar yang dinamai juga sebagai Common Swamp Pitcher-Plant ini selain di Papua tumbuh pula di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Thailand, Malaysia, Myanmar, Kamboja, Filipina, China, Hongkong, Australia, dan Palau.


Selain jenis-jenis tersebut, diyakini Papua masih menyimpan berbagai jenis tumbuhan kantong semar yang belum teridentifikasi.

Klasifikasi ilmiah:
Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Caryophyllales; Famili: Nepenthaceae; Genus: Nepenthes; Spesies: lihat artikel.

Jenis Spesies Kantong Semar (Nepenthes) Sumatera

Jenis Spesies Kantong Semar (Nepenthes) di pulau Sumatera, Indonesia merupakan yang terbanyak di dunia. Dari sekitar 129 spesies kantong semar, 37 jenis diantaranya tumbuh di pulau Sumatera, Indonesia. Bahkan banyak diantaranya yang merupakan endemik Sumatera.

Jumlah spesies kantong semar di pulau Sumatera ini lebih banyak dibandingkan pulau Kalimantan (Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam) yang memiliki 36 jenis Nepenthes. Kalimantan dan Sumatera merupakan dua pulau dengan ragam spesies Nepenthes alam terbesar di dunia.

Dalam daftar kali ini, spesies Kantong Semar (Nepenthes) saya bedakan dalam spesies (jenis) endemik Sumatera yang hanya didapati tumbuh di pulau Sumatera saja dan spesies non-endemik yang selain di Sumatera juga dapat dijumpai di tempat lain.

Jenis Kantong semar yang tumbuh endemik di Sumatera, Indonesia antara lain:

1 N. adnata. Endemik Sumatera Barat.
2 N. angasanensis
3 N. aristolochioides
4 N. beccariana. Endemik Nias, Sumatera.
5 N. bongso
6 N. densiflora
7 N. diatas
8 N. dubia
9 N. eustachya
10 N. flava
11 N. inermis
12 N. izumiae
13 N. jacquelineae
14 N. jamban
15 N. junghuhnii
16 N. lavicola
17 N. lingulata
18 N. longifolia
19 N. mikei
20 N. naga
21 N. ovata
22 N. rhombicaulis
23 N. rigidifolia
24 N. singalana
25 N. spectabilis
26 N. sumatrana
27 N. talangensis
28 N. tenuis
29 N. tobaica

Jenis Kantong semar yang selain tumbuh di Sumatera juga terdapat di pulau lain, antara lain:

1 N. albomarginata (White-Collared Pitcher-Plant). Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaysia.
2 N. ampullaria. Kalimantan, Sumatera, Kepulauan Maluku, Papua, Thailand, Malaysia, dan Singapura.
3 N. gracilis (Slender Pitcher-Plant). Selain di Sumatera juga tumbuh di Kalimantan, Sulawesi, semenanjung Malaysia, Singapura, dan Thailand.
4 N. gymnamphora. Selain di Sumatera juga dijumpai di pulau Jawa.
5 N. mirabilis (Common Swamp Pitcher-Plant). Tumbuh di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Thailand, Malaysia, Myanmar, Kamboja, Filipina, China, Hongkong, Australian, dan Palau.
6 N. rafflesiana (Raffles’ Pitcher-Plant). Tumbuh di Sumatera, Kalimantan, Malaysia, dan Singapura.
7 N. reinwardtiana (Reinwardt’s Pitcher-Plant). Tumbuh di Sumatera, Kalimantan, Malaysia, dan Singapura.
8 N. spathulata. Selain di Sumatera juga dijumpai di pulau Jawa.

Selain di pulau Sumatera ke-129 jenis kantong semar didapati tumbuh pula di berbagai tempat yang meliputi Kalimantan (Indonesia, Malaysia, dan Brunei) sebanyak 36 spesies; Filipina (24 spesies), Thailand (12 spesies), Papua (Indonesia dan Papua New Guinea, 11 spesies), Semenanjung Malaysia (11 spesies), Sulawesi (10 spesies), Kamboja (5 spesies), Vietnam dan Maluku (masing-masing 4 spesies), Australia, Jawa, dan Singapura (masing-masing 3 spesies), Madagaskar, Misool, dan Laos (masing-masing 2 spesies), dan masing-masing 1 spesies di India, Sri Lanka, Selandia Baru, China, Myanmar, Palau, Mikronesia, Seychelles, dan Pulau Waigeo (Papua Barat, Indonesia).


Spesies Nepenthes gracilis tumbuh di Sumatera


Nepenthes jamban endemik Sumatera


Nepenthes mikei endemik Sumatera


Nepenthes spathulata tumbuh di Jawa dan Sumatera


Spesies Nepenthes sumatrana endemik Sumatera


Kantong Semar (Nepenthes aristolochioides)

Di antara ke-37 spesies kantong semar yang tumbuh di pulau Sumatera, Indonesia, hampir seluruhnya merupakan tanaman langka yang terancam punah. Bahkan 3 jenis diantaranya dicap oleh IUCN Redlist dalam Critically Endangered (Kritis), 1 spesies Endangered (Terancam), dan 7 spesies sebagai Vulnerable (Rentan).

Untuk daftar spesies kantong semar dari pulau-pulau lain di Indonesia semisal Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, Jawa, dan Papua akan saya paparkan dikesempatan lain

Aneka Jenis Spesies Kantong Semar Asli Kalimantan

Nepenthes (kantong semar) yang merupakan tumbuhan asli di pulau Kalimantan Indonesia.

Pulau Kalimantan (Borneo) menjadi pulau dengan jumlah spesies kantong semar terbanyak kedua setelah Sumatera. Di pulau ini terdapat 36 jenis kantong semar alam. Baik yang endemik (tersebar di seluruh wilayah Kalimantan maupun zona-zona tertentu) maupun non-endemik.

Jenis spesies kantong semar (Nepenthes) asli dan endemik Kalimantan, antara lain:

1 N. bicalcarata (Fanged Pitcher-Plant); Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
2 N. boschiana (Bosch’s Pitcher-Plant); Indonesia.
3 N. campanulata (Bell-Shaped Pitcher-Plant); Endemik Kalimantan Timur.
4 N. clipeata (Shield-Leaved Pitcher-Plant); Endemik Gunung Kelam, Kalimantan Barat.
5 N. ephippiata; endemik Gunung Raya dan Gunung Lesong, Kalimantan Tengah.
6 N. fusca; Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
7 N. hirsuta; Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
8 N. hispida; Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
9 N. mapuluensis; Endemik Kalimantan Timur.
10 N. mollis; Endemik Kalimantan Timur.
11 N. pilosa; Indonesia dan Malaysia.
12 N. stenophylla; Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
13 N. veitchii; Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
14 N. vogelii; Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Spesies Kantong Semar asli dari Kalimantan yang bisa dijumpai di pulau lain (bukan endemik), seperti:

1 N. albomarginata; Indonesia (Kalimantan, Sumatera), Malaysia (Semenanjung Malaysia).
2 N. ampullaria; Brunei Darussalam, Indonesia (Papua, Kalimantan, Sumatera), Malaysia (Semenanjung Malaysia, Sabah, Sarawak), Papua New Guinea, Singapura, Thailand.
3 N. gracilis; Brunei Darussalam, Indonesia (Kalimantan, Sumatera), Malaysia (Semenanjung Malaysia, Sabah, Sarawak), Singapura, Thailand.
4 N. mirabilis; Australia, Brunei Darussalam, Kamboja, China, Indonesia (Papua, Kalimantan), Laos, Malaysia, Papua New Guinea, Filipina, Thailand, Vietnam.
5 N. rafflesiana; Brunei Darussalam, Indonesia (Kalimantan, Sumatera), Malaysia (Semenanjung Malaysia, Sabah, Sarawak), Singapura.
6 N. reinwardtiana; Indonesia (Kalimantan, Sumatera), Malaysia (Semenanjung Malaysia).
7 N. tentaculata; Indonesia (Kalimantan, Sulawesi), Malaysia.

Sisanya merupakan kantong semar (Nepenthes) endemik Kalimantan (Borneo) tetapi tidak terdapat di wilayah Indonesia melainkan hanya dijumpai di daerah Sabah, Serawak atau Brunei Darussalam saja. Spesies itu adalah: N. burbidgeae, N. chaniana, N. edwardsiana, N. faizaliana, N. glandulifera, N. hurrelliana, N. lowii, N. macrophylla, N. macrovulgaris, N. muluensis, N. murudensis, N. northiana, N. platychila, N. rajah, dan N. villosa.

Untuk pulau Sumatera bisa melihat daftar kantong semar Sumatera. Sedangkan pulau lain di Indonesia semisal Sulawesi, Kepulauan Maluku, Jawa, dan Papua akan saya paparkan di kesempatan lain.

napenthes-fusca


napenthes-rafflesiana


napenthes-stenophylla


nepenthes-bicalcarata


nepenthes-boschiana



nepenthes-clipeata


nepenthes-clipeata


nepenthes-ephippiata


nepenthes-mapuluensis



nepenthes-veitchii


Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Caryophyllales; Famili: Nepenthaceae; Genus: Nepenthes; Spesies: lihat daftar.

Referensi dan gambar: www.iucnredlist.org dan wikipedia

Rabu, 19 Oktober 2011

JENIS TANAMAN KANTONG SEMAR SULAWESI

Jenis-jenis tanaman bungan kantong semar (Nepenthes) ternyata didapati juga di Sulawesi. Pulau Sulawesi menjadi pulau dengan jenis spesies kantong semar terbanyak ketiga di Indonesia setelah Sumatera dan Kalimantan.

Di pulau sulawesi ini sedikitnya terdapat 9 spesies bunga kantong semar alami yang lima di antaranya merupakan tanaman endemik pulau ini. Sedangkan empat jenis lainnya, meskipun asli Sulawesi namun bisa ditemukan di pulau lainnya.

Berikut adalah daftar jenis tanaman bunga kantong semar (Nepenthes) yang merupakan tanaman endemik Sulawesi.

Nepenthes eymae (endemik Sulawesi Tengah).
Nepenthes glabrata (endemik Sulawesi Tengah).
Nepenthes hamata (endemik Sulawesi)
Nepenthes pitopangii (endemik Taman Nasional Lore Lindu)
Nepenthes tomoriana (endemik Sulawesi)

Berikut merupakan daftar jenis tanaman bunga kantong semar (Nepenthes) asli Sulawesi namun dapat ditemukan di tempat lain (bukan endemik).

Nepenthes gracilis. Terdapat di Brunei Darussalam, Indonesia (Kalimantan, Sulawesi, Sumatera); Malaysia (Semenanjung Malaysia, Sabah, Sarawak), Singapura, dan Thailand.
Nepenthes maxima. Terdapat di Indonesia (Papua, Maluku, Sulawesi) dan Papua New Guinea.
Nepenthes mirabilis. Terdapat di Australia, Brunei Darussalam, Kamboja, China, Indonesia (Papua, Kalimantan), Laos, Malaysia (Semenanjung Malaysia, Sabah, Sarawak); Papua New Guinea, Filipina; Thailand, dan Vietnam.
Nepenthes tentaculata. Terdapat di Indonesia (Kalimantan, Sulawesi) dan Malaysia.

Berikut ini gambar (foto) kesembilan jenis (spesies) kantong semar alami yang asli pulau Sulawesi Indonesia.

Nepenthes eymae


Nepenthes glabrata


Nepenthes gracilis


Nepenthes hamata


Nepenthes maxima


Nepenthes mirabis


Nepenthes pitopangii


Nepenthes tentaculata


Nepenthes tomoriana

Selain di Sulawesi tanaman bunga kantong semar tersebar di pulau Sumatera (37 jenis), Kalimantan (36 jenis), Papua (11 jenis), serta di pulau Maluku (4 spesies), dan Jawa (3 spesies). Selain di Indonesia, tanaman karnivora ini juga ditemukan dibeberapa negara lain seperti Australia, Brunei Darussalam, China, Filipina, India, Laos, Malaysia, Mikronesia, Myanmar, Madagaskar, Misool, Palau, Selaindia Baru, Singapura, Srilanka, dan Seychelles. Total spesies tanaman kantong semar mencapai lebih dari 129 jenis.

Sulawesi dan pulau-pulau lain di Indonesia menjadi pusat keanekaragaman spesies tanaman kantong semar. Dan kita harus bangga dengan itu. Semoga kebanggaan kita ini bisa kita wariskan kepada anak cucu kita kelak.